Kamis, 26 Mei 2011

Tasybih : Meyerupakan Allah Dengan Makhluk

Oleh : Bambang Prawiro
 
Perdebatan ilmu kalam dalam sejarah Islam terus bergulir, laksana bola salju yang terus menggelinding ia menghimpun siapapun yang ada di dekatnya. Bola salju ini terus menggelinding melintasi ruang dan waktu. Sejak kemunculannya di empat belas abad yang lalu, ia telah memakan jutaan korban. Dari korban fisik hingga korban mental dan pemikiran. Hingga abad ini ia terus menggelinding menerjang mereka yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Islam, hingga mereka terjebak ke dalam pemahaman menyimpang dari Islam.
Di antara bentuk pemahaman ilmu kalam yang saat ini terus menjadi bahan perdebatan adalah masalah “Tasybih” yaitu menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Jika dahulu para ulama memperdebatkan tentang sifat dariu Allah ta’ala yaitu mereka mempertanyakan tentang sifat-sifat Allah ta’ala, maka saat ini ia telah berevolusi menjadi sebuah paham saling menyalahkan sesama umat Islam.
Sebut saja kelompok A yang menuding keompok B melakukan tasybih dengan sifat-sifat Allah ta’ala. Sementara kelompok B justru menyatakan bahwa dia tidak menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Terjadilah apa yang disebut dengan saling tuduh. Kelompok A menganggap bahwa kelompok B adalah kelompok “tasybih” yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya dalam sifat-sifatNya, sementara kelompok B menuduh bahwa kelompok A adalah ahli “ta’wil” yaitu memalingkan sifat Allah ta’ala kepada sifat yang selainnya.
Dari perdebatan ini sebenarnya yang saya lihat adalah akar dari permasalahannya, yaitu dendam kesumat yang masih mengalir pada umat Islam. Tuduhan yang disampaikan oleh kelompok A kepada kelompok B sejatinya tidak benar. Karena dari beberapa literature yang ada kelompok B tidaklah menyerupakan Allah dengan makhlukNya, mereka hanya berpemahaman bahwa Allah memiliki sifat-sifat tertentu yang jelas tidak sama dengan mahklukNya. Sementara tudingan dari kelompok B kepada kelompok A adalah bahwa mereka (kelompok A) mena’wil sifat-sifat Allah karena mereka khawatir terjebak ke dalam penyerupaan kepada makhlukNya.
Jadi sebenarnya perbedaan di antara keduanya memiliki titik temu yaitu mereka tidak mau menyerupakan Allah dengan makhlukNya, dalam arti lebih tegas keduanya tidak mau menyandarkan sifat-sifat Allah yang disamakan dengan makhlukNya.
Dan sebenarnya ini sudah menjadi keimanan umat Islam bahwa Allah pasti berbeda dengan makhlukNya. Tidak mungkin antara Pencipta dan yang disipta sama, kalau hanya sifat-sifat yang memilik kemiripan bias jadi iya. Misalnya Allah itu Pengasih dan Penyayang, maka makhlukNya juga memilik rasa kasih dan sayang tersebut. Tapi kalau sudah berkaitan dengan sifat dzat atau fisik jelas berbeda, dan ini diakui baik oleh kelompok A ataupun kelompok B.
Karena itu sebenarnya kita memang terjebak ke dalam fanatisme kelompok sehingga masalah yang sebenarnya sama-sama diyakini namun karena kurangnya informasi kepada kita plus rasa fanatic kita kepada suatu kelompok mengakibatkan kita berbuat tidak adil kepada kelompok lain. Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat yang demikian……. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar