Kamis, 26 Mei 2011

Debat...

Oleh : Abu Aisyah

Saling meyalahkan, saling mencela dan saling menyesatkan, semua itu adalah fenomena yang terjadi dalam sebuah debat. Sejatinya berdebat tidaklah salah, ia adalah salah satu jalan untuk mendiskusikan permasalahan yang seringkali belum kita pahami secara benar. Allah ta’ala berfirman : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. QS An-Nahl : 125. Dalam ayat ini disebutkan mengenai perintah untuk membantah suatu perkataan yang tidak tepat, dengan kata lain “wa jadilhum” yang berarti “…dan debatlah mereka….” berarti terjadi diskusi.
 
Permasalahan yang sering muncul adalah kenapa debat yang terjadi di dunia maya bersifat kontra produktif? apakah karena kurangnya ilmu? atau mengedepankan hawa nafsu? saya sendiri tidak terlalu suka dengan perdebatan, apalagi itu berkaitan dengan masalah-masalah khilafiyah di bidang fiqh. Walaupun terkadang suka “panas” juga membaca beberapa komentar yang jauh dari “kebenaran”. dari semua perdebatan dan diskusi yang terjadi khususnya di dunia maya saya lihat memang “kurang bermanfat”. Karena persyaratan sebagai seorang “pendebat” kurang dipenuhi. Belum lagi bnyaknya orang-orang yang tidak suka dengan Islam yang sengaja mengadu domba umat ini, hingga yang terjadi adalah saling memusuhi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Rasa dengki itu telah mewabah di kalangan umat Islam hingga munculah apa yang sering disebutkan orang “ente bukan golongan ane”
Saya sendiri juga ketika membaca tulisan-tulisan yang berisi perdebatan tersebut sering tidak nyaman. Bisa jadi jika iman kita sedang turun perasaan “Ashabiyah” kita juga ikut muncul. Sehingga yang terjadi adalah kebenaran hanya ada pada kelompok saya. Karena itu saya juga tidak mau Majelis Penulis ini menjadi ajang perdebatan yang kontra produktif.
Masih banyak permasalahan lain yang harus kita pelajari, mari bersama kita belajar bersama. Niat ikhlas karena Allah ta’ala, bukan untuk membela kelompok kita. Dengan ini semoga Allah ta’ala memberikan hidayahNya kepada kita sehingga kita bisa memahami hakikat hidup ini.
 
Ilahi….  Jauhkan kami dari rasa dengki…… Terutama rasa dengki kepada saudara sesama muslim. Satukan kami dalam ikatan ukhuwah suci. Jangan biarkan kami bercerai-cerai sehingga musuh-musuh kami gembira dengan hal ini. Ilahi…. kabulkanlah permohonan kami

Tafadhol Read More......

…….silahkan, terima syukur menolak kufur?


Oleh : Bambang Prawiro

Dunia Islam tengah mengalami sekarat, apa sebab? Fenomena bermunculannya berbagai sekte dalam Islam mengakibatkan umat Islam yang awam dengan agamanya mudah termakan isu. Sehingga secara mentah-mentah menukil sebuah ucapan orang lain, apalagi jika itu berasal dari gurunya.
Di antara fenomena yang kerap terjadi adalah bentuk pengkafiran kepada orang lain atau kelompok lain. Ucapan “…….silahkan, terima syukur menolak kufur?” walaupun tidak diniatkan untuk mengkafirkan orang lain namun secara tidak langsung memunculkan fenomena pengkafiran kepada kelompok lain. Atau bias jadi memang ucapan ini mengandung makna bahwa yang mengikuti ucapannya berarti mengikuti pendapatnya (dengan ucapannya syukur), sementara yang menolak pendapatnya berarti kufur (keluar dari Islam alias murtad). Wuih……. Parah amat!
Pengkafiran adalah suatu paham yang menganggap bahwa orang lain itu salah sehingga terjatuh kepada kekufuran. Berbanding lurus dengan keyakinannya bahwa dia atau kelompoknya yang paling benar. Apakah tidak boleh menganggap diri benar? Tentu saja boleh ketika ia didasari pada ilmu yang benar. Bukan asal mendengar, apalagi hanya menukil (copy-paste) dari tulisan orang lain.
Masalah mengkafirkan pihak lain adalah sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam, sehingga tidak boleh mengatakan “ente kafir” kepada saudara kita yang masih muslim. Bisa jadi ia akan berbalik kepada sang penuduh kafir tersebut.
Kekafiran seseorang harus didasarkan kepada fakta dan data. Ditegakkannya hujjah atasnya dan dia sadar dengan keyakinannya tersebut. Jika hanya tidak mau mengikuti pendapat seseorang, apalagi dalam masalah fiqh maka kalimat “kafir” adalah sebuah kesalahan total.
Mudah-mudahan kita terhindar dari sikap mudah mengkafirkan orang lain. Selama seseorang muslim dan tidak ada sebab yang menyebabkan dia keluar dari Islam maka ia tetap muslim walaupun ia pelaku dosa besar. Wallahu a’lam.

Tafadhol Read More......

Tasybih : Meyerupakan Allah Dengan Makhluk

Oleh : Bambang Prawiro
 
Perdebatan ilmu kalam dalam sejarah Islam terus bergulir, laksana bola salju yang terus menggelinding ia menghimpun siapapun yang ada di dekatnya. Bola salju ini terus menggelinding melintasi ruang dan waktu. Sejak kemunculannya di empat belas abad yang lalu, ia telah memakan jutaan korban. Dari korban fisik hingga korban mental dan pemikiran. Hingga abad ini ia terus menggelinding menerjang mereka yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Islam, hingga mereka terjebak ke dalam pemahaman menyimpang dari Islam.
Di antara bentuk pemahaman ilmu kalam yang saat ini terus menjadi bahan perdebatan adalah masalah “Tasybih” yaitu menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Jika dahulu para ulama memperdebatkan tentang sifat dariu Allah ta’ala yaitu mereka mempertanyakan tentang sifat-sifat Allah ta’ala, maka saat ini ia telah berevolusi menjadi sebuah paham saling menyalahkan sesama umat Islam.
Sebut saja kelompok A yang menuding keompok B melakukan tasybih dengan sifat-sifat Allah ta’ala. Sementara kelompok B justru menyatakan bahwa dia tidak menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Terjadilah apa yang disebut dengan saling tuduh. Kelompok A menganggap bahwa kelompok B adalah kelompok “tasybih” yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya dalam sifat-sifatNya, sementara kelompok B menuduh bahwa kelompok A adalah ahli “ta’wil” yaitu memalingkan sifat Allah ta’ala kepada sifat yang selainnya.
Dari perdebatan ini sebenarnya yang saya lihat adalah akar dari permasalahannya, yaitu dendam kesumat yang masih mengalir pada umat Islam. Tuduhan yang disampaikan oleh kelompok A kepada kelompok B sejatinya tidak benar. Karena dari beberapa literature yang ada kelompok B tidaklah menyerupakan Allah dengan makhlukNya, mereka hanya berpemahaman bahwa Allah memiliki sifat-sifat tertentu yang jelas tidak sama dengan mahklukNya. Sementara tudingan dari kelompok B kepada kelompok A adalah bahwa mereka (kelompok A) mena’wil sifat-sifat Allah karena mereka khawatir terjebak ke dalam penyerupaan kepada makhlukNya.
Jadi sebenarnya perbedaan di antara keduanya memiliki titik temu yaitu mereka tidak mau menyerupakan Allah dengan makhlukNya, dalam arti lebih tegas keduanya tidak mau menyandarkan sifat-sifat Allah yang disamakan dengan makhlukNya.
Dan sebenarnya ini sudah menjadi keimanan umat Islam bahwa Allah pasti berbeda dengan makhlukNya. Tidak mungkin antara Pencipta dan yang disipta sama, kalau hanya sifat-sifat yang memilik kemiripan bias jadi iya. Misalnya Allah itu Pengasih dan Penyayang, maka makhlukNya juga memilik rasa kasih dan sayang tersebut. Tapi kalau sudah berkaitan dengan sifat dzat atau fisik jelas berbeda, dan ini diakui baik oleh kelompok A ataupun kelompok B.
Karena itu sebenarnya kita memang terjebak ke dalam fanatisme kelompok sehingga masalah yang sebenarnya sama-sama diyakini namun karena kurangnya informasi kepada kita plus rasa fanatic kita kepada suatu kelompok mengakibatkan kita berbuat tidak adil kepada kelompok lain. Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat yang demikian……. Amin.

Tafadhol Read More......

Antara Khawarij dan Murji’ah



Oleh : Abu Aisyah


Secara teoritis Khawarij adalah pemahaman dari sekelompok umat Islam yang menyatakan bahwa tidak ada hukum selain hukum Allah. Maksudnya adalah mereka tidak mau menerima setiap hukum yang berasal dari manusia. Mereka dikenal dengan sikapnya yang keras terhadap pemerintahan Islam. Dari literature yang ada mereka adalah sekelompok orang yang keluar dari pemerintahan Ali bin Abi Thalib dan menolak tahkim yang dilakukan antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Muawiyyah. Intinya mereka adalah kelompok yang menjegal pemerintah Islam yang tidak melaksanakan hukum-hukum Allah ta’ala.
Adapun Murji’ah adalah pemahaman bahwa amal perbuatan itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang. Sehingga menurut mereka, jika ada seseorang yang melakukan amalan kekufuran maka tidak mempengaruhi keimanannya. Contohnya ketika seorang pejabat pemerintah melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan hukum Islam, maka perbuatannya tersebut tidak mempengaruhi keimanannya.
Kok jadi serius gini sih…. Halah teoritis amat sih… ana cuma mau ngomong kalau sekarang ini banyak orang yang ngompor-ngomporin masalah kaya ginian. Paham Khawarij and Murji’ah itu terjadi pada masa lalu. Kalau sekarang ada ya itu cuman sisa-sisanya aja. Trus sama orang-orang yang nggak seneng sama Islam dibesar-besarin, jadinya umat Islam pada musuhan and gak akur.
Bayangin aja, satu kelompok nuduh kelompok lain khawarij karena sering mengkritik pemerintah dan tidak suka dengan pemerintah, sementara yang dituduh Khawarij balik nuduh mereka itu murji’ah karena tidak mengkafirkan orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan kekufuran. Nah lo…. Ente mau pilih mana? Bingung khan?
Ngak usah bingung-binguung take it easy, santai aja. Duduk di sofa tahan napas dan….. is death dong. Ya enggak lah…. Maksudnya kalo ngadepin masalah kayak gini kudu dengan kepala dingin jangan karena hawa napsu and pengin ngebanggain kelompokny aja. Tapi akhi ini khan dalilnya sudah jelas…. Siapa saja yang tidak taat kepada pemerintah berarti dia…… khawarij. Betul…. Tapi pemerintah yang mana dulu….? Kalo pemerintah Islam yang menjalankan Islam mungkin oke, tapi kalo pemerintahnya juga berhukum dengan hukum Allah gimana dong? Nah… lo kok kayak ngebelain gini. Enggak sih… buat penyeimbang saja kalau memang pemerintah salah yah.. ngomong aja salah cuman caranya itu yang kudu lebih beradab. Terus… gak juga manas-manasin generasi muda biar ga suka sama pemerintah. Selama mereka masih mengaku Islam ya…. kita ikutlah dalam hal yang ma’ruf.
Ikut dengan yang ma;ruf maksudnya gimana? Apa membiarkan mereka begitu saja, padahal mereka sudah tidak mau menerapkan hukum Islam dan mereka sadar lagi… mereka itu secara terang-terangan menolak hukum Islam. Kalau mereka bilang hukum Islam itu tidak cocok di suatu Negara, apa itu bukan melecehkan hukum Allah…
Waduh, jadi panas begini yah…. Ini dia nih yang ana juga lagi di tengah-tengah. Mau mihak ke mana ya….? mending nggak ke mana-mana deh. Lebih proporsional dan netral, tentunya dengan Islam dong.
Jadi solusinya gimana dong? Laksanakan aja Islam sekuat tenaga kita, maksimalkan potensi untuk Islam dan kaum muslimin. Jangan mengedepankan hawa nafsu untuk membela kelompok kita saja. Tidak usah lah ada kata-kata…. “Fulan Bukan Ikhwan Kita”  beda manhaj…. Na’udzubillah min dzalika. Yang lebih penting lagi nih….. jangan ngikutin ucapan orang lain tanpa kita tau dasarnya apalagi membela pendapat orang secara membabi-buta, bisa bahaya. Kita akan gelap mata dan dengan mudah menyatakan pendapat yang bertentangan dengan pendapat yang kita ikuti itu dianggap sesat….. ente khawarijj….. ente murji’ah. Nggak ada abisnya khan? Padahal masih banyak ilmu lain yang harus kita pelajari. Jangan sampai kita sibuk dengan tuduhan-tuduhan seperti itu, bisa jadi tuduhan itu hanya pitnah….
“Kayaknya ente udah kemakan subhat deh…” Iya kali ya? Afwan… ini bukan subhat sobat… ini adalah sikap bersahabat, selama mereka masih muslim kenapa kita dengan mudah mencela mereka…. Iya nggak?  

Tafadhol Read More......

Rabu, 18 Mei 2011

Hidup Di Tengah Fitnah Jama’ah


Oleh : Abu Aisyah


Hidup di tengah fitnah, inilah yang tengah terjadi saat ini. Hal ini menimpa pada orang-orang yang berusaha untuk tetap istiqamah dalam membela Islam yang shahihah. Bagaimana tidak? Ketika banyak orang lain bangga dengan kelompoknya dan membanggakan serta mendakwahkan nama kelompoknya saja, kita berada antara kelompok-kelompok tersebut. Tentu saja bukan menyalahkan kelompok-kelompok tersebut, namun sebaliknya orang-orang yang tidak ikut suatu kelompok sering sekali dituding dengan berbagai hujatan. Jika ia masuk ke kelompok A maka ia dianggap ikut kelompok B, sementara jika ia berada di kelompok B dianggap membela kelompok A.
Berbangga-bangga dengan kelompok –entah apa namanya- sejatinya adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Apalagi hingga meyakini bahwa kebenaran adalah yang berasal dari kelompoknya, sementara kelompok lain adalah salah. Lebih ekstrim lagi ketika menganggap bahwa orang-orang yang tidak mau menjadi bagian dari kelompoknya dianggap sesat dan kafir, naudzubillah.
Fenomena umat yang Islam yang bangga dengan kelompoknya adalah sebuah realita, betapapun suatu jama’ah mengaku membenci perpecahan dan menginginkan sebuah persatuan umat namun sesungguhnya ia telah terjebak ke dalam kelompok tersebut. Ia mengingkari adanya madzhab namun ia sendiri membuat sebauh madzhab. Madzhab tanpa madzhab, itulah fenomena yang terjadi saat ini ditambah lagi para pengikut madzhab sebenarnya yang sangat taklid dengan apa kata gurunya. Semua itu menambah ashabiyah (bangga dengan kelompok) semakin membelit umat Islam.
Jika kita melihat fenomena masyarakat yang bangga dengan kelompoknya masing-masing dan cenderung dengan mudah menyalahkannya. Apa kira-kira jalan keluar dari semua ini? Tetaplah istiqamah dengan Islam dan Sunnah, itulah keputusan terbaik yang harus kita lakukan. Jika mampu maka hindarilah kelompok-kelompok atau jama’ah yang akan memecah belah umat Islam, namun jika ingin masuk ke dalam kelompok terebut silahkan saja hanya saja syaratnya adalah jangan sampai dengan mudah menyalahkan orang lain atau kelompok lain. Apalagi hanya masalah-masalah fiqh yang sifatnya furu’iyyah, misalnya masalah qunut, tarawih, jumat dan masalah fiqh lainnya. Semoga kita tetap istiqamah di atas Islam dan Sunnah bukan di atas jama’ah yang tida lepas dari salah. Wallahu a’lam. 

Tafadhol Read More......

Senin, 16 Mei 2011

Kecerdasan Manhaj

Oleh : Abdurrahman M
  
            Manhaj berasal dari bahasa Arab yang berarti metode, cara atau jalan, Alloh ta’ala berfirman : "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan  (minhaj) jalan yang terang" (QS. 5 : 48), Berbicara tentang kecerdasan manhaj berarti membawa kita untuk kembali sejenak merenungi metode atau cara kita didalam ber-Islam, semoga ini menjadi salah satu titik tolak kita menuju Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. 21:107), tentunya tanpa menghilangkan adanya perbedaan-perbedaan dalam masalah furu'iyyah yang menjadi dinamika  Islam sendiri. Islam sebagai Agama, Dien, dan aturan hidup (QS. 3 : 83, 98 : 5) yang kamil (sempurna) (QS 5 : 3) memberikan jalan yang sangat jelas dan terang kepada ummatnya untuk menapakinya, Alloh ta;ala berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya " (QS. 4 : 59), Juga sabda Nabi : " Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya yaitu Kitabullah dan sunnahku" (HR. Malik dan Hakim). Kedua azas (pedoman) ini sudah cukup bagi kita untuk menapaki manhaj Islam ini, namun seiring berlalunya zaman ternyata pemahaman tentang kedua azas ini mengalami pergeseran, sehingga diperlukan adanya simpul yang bisa menyatukan perbedaan pandangan tentang kedua azas ini, dan simpul itu tidak ada lain kecuali menyandarkan keduanya kepada masa atau zaman di mana keduanya diturunkan, penyandaran ini juga sebagai tonggak penguat bagi keduanya, dan sebagai tonggak yang kokoh dia juga sebagai simpul pemersatu ummat, Alloh ta'ala berfirman : " Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui " (QS. 2 : 256).Karena itu kecerdasan manhaj berarti bagaimana metode atau cara kita dalam ber-Islam dan tidak ada jawaban lain kecuali mengamalkan Islam dengan merujuk kepada generasi dimana kedua azas dalam Islam (Al-Qur'an dan As-Sunnah) itu diturunkan, inilah jalan yang dijamin oleh Alloh ta'ala untuk mencapai keridhoaan-NYA. Alloh ta'ala  berfirman :  "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar " (QS. 9 : 100). Seorang yang mempunyai kecerdasan manhaj yang benar pasti inilah tujuan dia dalam ber-Islam, karena apalagi yang kita cari dalam Islam selain keridhoaan-Nya? Wallohu'alam. 

Tafadhol Read More......

Jiwa VS Nafsu


Oleh : Abu Aisyah

Secara bahasa an-nafs berarti jiwa atau ruh, dalam arti yang lebih luas ia juga bermakna jasad, badan atau tubuh.  Dalam bahasa Indonesia kata nafsu lebih ke arah keinginan yang bersifat negative yang kita kenal dengan hawa nafsu. Sementara jiwa dikenal dengan ruh yang bersifat immaterial. Merujuk pada pemahaman bahasa Arab maka sebenarnya pengertian nafsu adalah gabungan antara jiwa dan raga yang dalam bahasa Indonesia adalah dua materi yang berbeda.
Jika demikian bagaimana memahami ayat berikut ini ?        
وَمَآأُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. QS Yusuf : 53.
Inilah ucapan Nabi Yusuf yang mulia, ketika beliau “disidang” karena dituduh melakukan tindakan mesum dengan tuannya.  Apa yang dimaksud dengan “nafsu” dalam ayat ini? Apakah ia bermakna jiwa atau jiwa dan raga?
Dalam kisah ini Nabi Yusuf 'Alaihi Salam menyadari dan mengaku bahwa dirinya walaupun dalam kasus ini beliau berada di pihak yang benar namun beliau juga memahami (ma'rifatun nafsi) bahwa dirinya tidak bisa lepas dari kesalahan. Dalam hal ini jiwanya sebagai seorang lelaki sejati juga memiliki “rassa” terhadap lawan jenisnya. Tentu saja ini adalah fitrah yang ada pada setiap diri manusia. Perbedaannya adalah pada bagaimana ia bisa mengendalikannya.  Pengendalian nafsu (dalam hal ini hawa) pada diri beliau tentu saja melebihi dari manusia kebanyakan, sebagai seorang nabi beliau memiliki keistimewaan terutama dalam hal mengarahkan hawa nafsunya. Beliau tetap menjaga kesuciannya walaupun “rasa” itu ada.
Pengendalian terhadap hawa nafsu adalah kunci dalam meraih kebahagiaan hakiki. Hawa nafsu, adalah keinginan atau kehendak negatif yang ada pada jiwa dan raga manusia untuk melakukan hal-hal yang melanggar syariatNya. Sebagaimana disitir oleh Nabi Yusuf, maka sesungguhnya hawa jiwa (baca = hawa nafsu) memang selalu mengajak kepada perilaku keburukan. Apakah anda juga sedang belajar mengendalikan hawa nafsu? Saya juga sedang belajar.  

Tafadhol Read More......

Check, Recheck, Triple check and Multi check


Oleh : Ibnu Muhammad


Akhir-akhir ini permusuhan antar sesame umat Islam semakin meruncing, tidak hanya masalah qunut tidak qunut atau tarawih sebelsa atau dua tiga rakaat. Namun ia telah merambah ke doktrinisasi yang tidak benar terhadap para pengikutnya. “Hati-hati dengan Syaikh Fulan, dia Wahabi” atau ucapan hati-hati dengan ustadz Alan dia hizby” belum lagi berita-berita yang berkembang di internet yang sering sekali tidak seimbang.
Terlepas dari grand design yang dibuat oleh musuh-musuh Islam, ternyata umat Islam sendiri terjebak ke dalam permusuhan antara mereka. Bahkan check ulang dalam menerima suatu berita sering kali tidak dilakuakn. Sehingga yang terjadi kebencian kepada seseorang seringkali tidak bisa dihindarkan.
Padahal, lebih dari empat belas abad yang lalu Allah ta’ala dalam Al-Qur’an yang mulia telah wanti-wanti agar selalu berhati-hati dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Allah ta’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (QS. Al Hujurat: 6). Dalam ayat ini Allah Subhannahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk bertatsabbut atau tabayyun yakni mengecek kebenaran berita yang kita dengar. Dan sebelumnya tentu harus dilihat terlebih dahulu keadan si pembawa berita, apakah dia seorang yang jujur dan bertanggung-jawab ataukah seorang yang fasiq? Tabayyun terhadap berita yang disampaikan oleh seorang fasiq adalah wajib.
Maka apabila kita mendengar berita tentang seseorang, selayaknya dilihat terlebih dahulu orang yang menyampaikan berita tersebut. Karena bisa jadi dia sedang ada permusuhan, sengketa, hasad, dendam atau persaingan tidak sehat dengan orang yang dia tuduh. Dan boleh jadi juga, dia (penyampai berita) memang orang yang ada cacat di dalam sisi agama dan amanahnya, sehingga beritanya layak untuk di tolak.
Berkata Imam as Sakhawi, "Ibnu Abdil Barr berpendapat, bahwa ahli ilmu tidak menerima jarh (berita negatif), kecuali dengan bukti yang jelas, kalau sekiranya dalam kasus itu ada permusuhan maka selayaknya berita tersebut tidak diterima."
Setelah kita melihat keadaan pembawa berita, maka langkah selanjutnya adalah melihat kebenaran berita yang disampaikan (tabayyun). Mengomentari firman Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam ayat enam surat al Hujurat, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syanqithi berkata," Ayat dari surat al Hujurat ini menunjukkan dua permasalahan:
Pertama, Bahwa apabila seorang fasiq membawa berita, maka boleh untuk diketahui kebenarannya, apakah berita yang disampaikan si fasiq itu benar atau dusta, maka wajib untuk tatsabbut (dicek).
Kedua, Berdasarkan ini ahli ilmu ushul berpendapat tentang diterima-nya berita yang adil, karena firman Allah, "Jika datang kepadamu seorang fasiq dengan membawa berita, maka telitilah" mengisyaratkan kepada berita yang disampaikan. Maksud saya pengertian balik (mafhum mukhalafah) dari ayat ini adalah kalau yang datang membawa berita bukan orang fasiq, namun seorang yang adil (terpercaya), maka tidak harus diteliti beritanya.
Demikian pula di dalam periwayatan atau menukil ilmu, maka harus dibedakan antara rawi yang bagus hafalannya dengan yang buruk hafalannya, yang bagus pemahamannya dengan yang tidak, yang bagus ta'bir (ungkapan bahasanya) dengan yang rendah, apa lagi dalam hal kejujuran dan amanahnya.
Karena suatu berita apabila disampaikan oleh orang yang lemah ingatannya atau buruk pemahamannya, atau pun tidak bagus ungkapannya, maka berita itu menjadi lemah. Oleh karenanya berita tersebut musti diteliti, karena bisa jadi berita tersebut menjadi cacat dan tidak akurat, entah itu dengan menyebutkan spesifik dari yang umum atau menyebut terperinci dari yang global. Atau dia mengungkap-kan dengan pemahamannya yang keliru sehingga berbeda dengan maksud yang sebenarnya, dan bahkan menyebutkan kalimat yang tidak pernah diucapkan oleh nara sumber atau pun mengurangi sebagian kalimat yang sebenarnya penting, namun dianggap tidak penting oleh penyampai berita karena salah pemahamannya. Demikian pula mungkin si pembawa berita salah di dalam mengungkapkan dan memilih kata, sehingga maksudnya menjadi berbeda dengan maksud pengucapnya. Dan yang lebih parah kalau seluruh hal tersebut terdapat di dalam diri seseorang, kabar yang disampaikan tentu menjadi berantakan tidak karuan.
Maka terkadang terjadi di masa ini seseorang membawakan fatwa seorang ulama yang berbeda dengan fatwa sebenarnya, yang disebabkan karena lemahnya hafalan atau kurangnya pemahaman, kadang pula karena salah dalam mengungkapkan, dan kenyataan membuktikan itu semua.
Demikian pula kabar-kabar yang menyangkut pribadi seseorang atau sebuah lembaga yang sama sekali tidak memiliki landasan yang benar. Kesemua itu tidak lain karena sebab-sebab yang telah tersebut di atas, ini jika memang pembawa berita kita anggap sebagai orang yang jujur dan terbebas dari segala tuduhan dusta.
Imam al Hasan al Bashri berkata, "Seorang mukmin adalah abstain (diam) sehingga dia bertabayyun." Yang perlu ditekankan dalam permasalahan ini adalah barang siapa yang diketahui sebagai seorang yang jujur, bagus agamanya, bagus hafalan dan pemahamannya, bagus di dalam ungkapan serta penyampaiannya, maka kita terima beritanya tanpa harus meneliti terlebih dahulu. Jika ada cacat dalam salah satu sifat-sifat di atas, maka barulah tatsabbut terhadap berita itu dilakukan, khususnya jika menyangkut permasalahan yang urgen.
Maka ketika kita menyampaikan berita, berupa fatwa ulama, ucapan yang bersumber dari seseorang atau dari sebuah lembaga, yang paling utama adalah semaksimal mungkin menyampaikannya berdasarkan apa adanya teks atau kalimat secara utuh, sebagai upaya untuk menjauhi terjadi-nya hal-hal yang tidak diinginkan.
Semua yang tersebut di atas telah diisyaratkan melalui sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sebagai berikut, artinya: "Semoga Allah memberikan cahaya kepada seorang hamba yang mendengarkan ucapanku lalu menghafal dan memahaminya, menyampaikannya kepada yang belum mendengarnya. Berapa banyak pembawa ilmu yang tidak faham terhadapnya, dan berapa banyak orang yang menyampaikan ilmu kepada yang lebih faham daripada dirinya." (HR.Ahmad dalam al Musnad 4/87)
Inilah pesan yang simpel tapi padat (jawami' al kalam) yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kepada kita semua. Agar kita tidak dengan mudah termakan oleh berita atau ucapan orang lain yang menghina seorang ulama hanya karena ulama tersebut berseberangan dengan kita. Allah ta’ala berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ للهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS Al-Maidah : 8.

  

Tafadhol Read More......

Beliau Ulama, Anda Siapa?


Oleh : Ibnu Muhammad


Sikap fanatik terhadap satu kelompok seringkali berefek kepada kebencian kepada kelompok lainnya. Lebih khusus lagi kebencian tersebut akan dialamatkan kepada pendiri dan pendukung dari kelompok yang dibencinya tersebut. Bisa jadi kebencian ini semakin berurat dan berakar sehingga menutup mata akan kebaikan yang ada pada orang dan kelompok yang dibencinya tersebut.
Jika kebencian itu diarahkan secara umum kepada suatu kelompok bisa jadi masih dimaafkan karena ketidak tahuannya tentang kelompok tersebut. Namun jika kebencian itu ditujukan kepada seorang tokoh yang telah mempergunakan seluruh hidupnya untuk Islam dan kaum muslimin, maka ini adalah musibah besar. Seorang penuntut ilmu yang masih awam dengan mudahnya mengarahkan rasa bencinya kepada seorang “ulama” dengan melontarkan kata-kata makian dan hujatan. Padahal ia tidak mengetahui secara persis kesalahan dari tokoh tersebut.
Kebencian yang muncul sering kali berasal dari berita-berita yang tidak seimbang dan berasal dari musuh-musuh tokoh tersebut, sehingga apa yang diberitakan tentang suatu tokoh tersebt selalu jelek didengarnya. Jika ada sedikit ilmu yang ada pada dia, apalagi dengan adab dan etika Islamnya kepada para ulama tentulah ia tidak akan mudah terpancing dengan berita-berita dusta yang menjelek-jelekan ulama.
Namun apa hendak dikata, sulit untuk kembali memperbaiki nama baik seorang tokoh kecuali dengan melihat “Apa yang telah diperbuat tokoh tersebut untuk Islam?” Sebuah pertanyaan yang seharusnya menghentak orang-orang yang suka mendeskriditkan tokoh Islam dengan tanpa adanya ilmu. Beliau adalah ulama yang telah menghabiskan waktu dan seluruh hidupnya untuk Islam dan kemajuan dakwahnya. Sedangkan anda? Apa kontribusi anda terhadap Islam? Apakah pantas orang-orang kecil seperti kita mencemooh dan menghina tokoh besar Islam yang seumur hidupnya dihabiskan untuk mengkaji Islam? Berapa buku yang telah anda tulis hingga beran-beraninya menyalahkan dan menghina para ulama yang telah menulis berjilid-jilid buku?
Para ulama umat ini memang tidak butuh pembelaan, karena mereka adalah orang-orang bertakwa yang tawadhu’ dan tidak suka untuk dikenal. Namun adab dan etika kita sebagai seorang muslim, tentu tidak pantas merendahkan mereka. Sudah saatnya kita mawas diri untuk menjaga lisan kita dari menghina para ulama, hak mereka sebagai pewaris para nabi dan hak mereka sebagai muslim.
Jika mereka punya kesalahan maka itulah kedudukan mereka sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari salah dan dosa. Jika mereka juga punya kesalahan apalagi kita yang masih jauh dari ilmu dan amal. Mari bersama kita tingkatkan keilmuan kita hingga bisa memberikan sesuatu bagi Islam. Jangan karena rasa dengki kita, kemudian tertutup mata kita untuk melihat kebaikan yang ada di depan mata. Beliau adalah ulama, anda siapa? Sudah berapa kontribusi anda untuk Islam? Bandingkan dengan tokoh yang anda hina yang telah memberikan kontribusi nyata kepada Islam. Wallahu a’lam.


Tafadhol Read More......