Kamis, 26 Mei 2011

Debat...

Oleh : Abu Aisyah

Saling meyalahkan, saling mencela dan saling menyesatkan, semua itu adalah fenomena yang terjadi dalam sebuah debat. Sejatinya berdebat tidaklah salah, ia adalah salah satu jalan untuk mendiskusikan permasalahan yang seringkali belum kita pahami secara benar. Allah ta’ala berfirman : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. QS An-Nahl : 125. Dalam ayat ini disebutkan mengenai perintah untuk membantah suatu perkataan yang tidak tepat, dengan kata lain “wa jadilhum” yang berarti “…dan debatlah mereka….” berarti terjadi diskusi.
 
Permasalahan yang sering muncul adalah kenapa debat yang terjadi di dunia maya bersifat kontra produktif? apakah karena kurangnya ilmu? atau mengedepankan hawa nafsu? saya sendiri tidak terlalu suka dengan perdebatan, apalagi itu berkaitan dengan masalah-masalah khilafiyah di bidang fiqh. Walaupun terkadang suka “panas” juga membaca beberapa komentar yang jauh dari “kebenaran”. dari semua perdebatan dan diskusi yang terjadi khususnya di dunia maya saya lihat memang “kurang bermanfat”. Karena persyaratan sebagai seorang “pendebat” kurang dipenuhi. Belum lagi bnyaknya orang-orang yang tidak suka dengan Islam yang sengaja mengadu domba umat ini, hingga yang terjadi adalah saling memusuhi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Rasa dengki itu telah mewabah di kalangan umat Islam hingga munculah apa yang sering disebutkan orang “ente bukan golongan ane”
Saya sendiri juga ketika membaca tulisan-tulisan yang berisi perdebatan tersebut sering tidak nyaman. Bisa jadi jika iman kita sedang turun perasaan “Ashabiyah” kita juga ikut muncul. Sehingga yang terjadi adalah kebenaran hanya ada pada kelompok saya. Karena itu saya juga tidak mau Majelis Penulis ini menjadi ajang perdebatan yang kontra produktif.
Masih banyak permasalahan lain yang harus kita pelajari, mari bersama kita belajar bersama. Niat ikhlas karena Allah ta’ala, bukan untuk membela kelompok kita. Dengan ini semoga Allah ta’ala memberikan hidayahNya kepada kita sehingga kita bisa memahami hakikat hidup ini.
 
Ilahi….  Jauhkan kami dari rasa dengki…… Terutama rasa dengki kepada saudara sesama muslim. Satukan kami dalam ikatan ukhuwah suci. Jangan biarkan kami bercerai-cerai sehingga musuh-musuh kami gembira dengan hal ini. Ilahi…. kabulkanlah permohonan kami

Tafadhol Read More......

…….silahkan, terima syukur menolak kufur?


Oleh : Bambang Prawiro

Dunia Islam tengah mengalami sekarat, apa sebab? Fenomena bermunculannya berbagai sekte dalam Islam mengakibatkan umat Islam yang awam dengan agamanya mudah termakan isu. Sehingga secara mentah-mentah menukil sebuah ucapan orang lain, apalagi jika itu berasal dari gurunya.
Di antara fenomena yang kerap terjadi adalah bentuk pengkafiran kepada orang lain atau kelompok lain. Ucapan “…….silahkan, terima syukur menolak kufur?” walaupun tidak diniatkan untuk mengkafirkan orang lain namun secara tidak langsung memunculkan fenomena pengkafiran kepada kelompok lain. Atau bias jadi memang ucapan ini mengandung makna bahwa yang mengikuti ucapannya berarti mengikuti pendapatnya (dengan ucapannya syukur), sementara yang menolak pendapatnya berarti kufur (keluar dari Islam alias murtad). Wuih……. Parah amat!
Pengkafiran adalah suatu paham yang menganggap bahwa orang lain itu salah sehingga terjatuh kepada kekufuran. Berbanding lurus dengan keyakinannya bahwa dia atau kelompoknya yang paling benar. Apakah tidak boleh menganggap diri benar? Tentu saja boleh ketika ia didasari pada ilmu yang benar. Bukan asal mendengar, apalagi hanya menukil (copy-paste) dari tulisan orang lain.
Masalah mengkafirkan pihak lain adalah sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam, sehingga tidak boleh mengatakan “ente kafir” kepada saudara kita yang masih muslim. Bisa jadi ia akan berbalik kepada sang penuduh kafir tersebut.
Kekafiran seseorang harus didasarkan kepada fakta dan data. Ditegakkannya hujjah atasnya dan dia sadar dengan keyakinannya tersebut. Jika hanya tidak mau mengikuti pendapat seseorang, apalagi dalam masalah fiqh maka kalimat “kafir” adalah sebuah kesalahan total.
Mudah-mudahan kita terhindar dari sikap mudah mengkafirkan orang lain. Selama seseorang muslim dan tidak ada sebab yang menyebabkan dia keluar dari Islam maka ia tetap muslim walaupun ia pelaku dosa besar. Wallahu a’lam.

Tafadhol Read More......

Tasybih : Meyerupakan Allah Dengan Makhluk

Oleh : Bambang Prawiro
 
Perdebatan ilmu kalam dalam sejarah Islam terus bergulir, laksana bola salju yang terus menggelinding ia menghimpun siapapun yang ada di dekatnya. Bola salju ini terus menggelinding melintasi ruang dan waktu. Sejak kemunculannya di empat belas abad yang lalu, ia telah memakan jutaan korban. Dari korban fisik hingga korban mental dan pemikiran. Hingga abad ini ia terus menggelinding menerjang mereka yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Islam, hingga mereka terjebak ke dalam pemahaman menyimpang dari Islam.
Di antara bentuk pemahaman ilmu kalam yang saat ini terus menjadi bahan perdebatan adalah masalah “Tasybih” yaitu menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Jika dahulu para ulama memperdebatkan tentang sifat dariu Allah ta’ala yaitu mereka mempertanyakan tentang sifat-sifat Allah ta’ala, maka saat ini ia telah berevolusi menjadi sebuah paham saling menyalahkan sesama umat Islam.
Sebut saja kelompok A yang menuding keompok B melakukan tasybih dengan sifat-sifat Allah ta’ala. Sementara kelompok B justru menyatakan bahwa dia tidak menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Terjadilah apa yang disebut dengan saling tuduh. Kelompok A menganggap bahwa kelompok B adalah kelompok “tasybih” yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya dalam sifat-sifatNya, sementara kelompok B menuduh bahwa kelompok A adalah ahli “ta’wil” yaitu memalingkan sifat Allah ta’ala kepada sifat yang selainnya.
Dari perdebatan ini sebenarnya yang saya lihat adalah akar dari permasalahannya, yaitu dendam kesumat yang masih mengalir pada umat Islam. Tuduhan yang disampaikan oleh kelompok A kepada kelompok B sejatinya tidak benar. Karena dari beberapa literature yang ada kelompok B tidaklah menyerupakan Allah dengan makhlukNya, mereka hanya berpemahaman bahwa Allah memiliki sifat-sifat tertentu yang jelas tidak sama dengan mahklukNya. Sementara tudingan dari kelompok B kepada kelompok A adalah bahwa mereka (kelompok A) mena’wil sifat-sifat Allah karena mereka khawatir terjebak ke dalam penyerupaan kepada makhlukNya.
Jadi sebenarnya perbedaan di antara keduanya memiliki titik temu yaitu mereka tidak mau menyerupakan Allah dengan makhlukNya, dalam arti lebih tegas keduanya tidak mau menyandarkan sifat-sifat Allah yang disamakan dengan makhlukNya.
Dan sebenarnya ini sudah menjadi keimanan umat Islam bahwa Allah pasti berbeda dengan makhlukNya. Tidak mungkin antara Pencipta dan yang disipta sama, kalau hanya sifat-sifat yang memilik kemiripan bias jadi iya. Misalnya Allah itu Pengasih dan Penyayang, maka makhlukNya juga memilik rasa kasih dan sayang tersebut. Tapi kalau sudah berkaitan dengan sifat dzat atau fisik jelas berbeda, dan ini diakui baik oleh kelompok A ataupun kelompok B.
Karena itu sebenarnya kita memang terjebak ke dalam fanatisme kelompok sehingga masalah yang sebenarnya sama-sama diyakini namun karena kurangnya informasi kepada kita plus rasa fanatic kita kepada suatu kelompok mengakibatkan kita berbuat tidak adil kepada kelompok lain. Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat yang demikian……. Amin.

Tafadhol Read More......

Antara Khawarij dan Murji’ah



Oleh : Abu Aisyah


Secara teoritis Khawarij adalah pemahaman dari sekelompok umat Islam yang menyatakan bahwa tidak ada hukum selain hukum Allah. Maksudnya adalah mereka tidak mau menerima setiap hukum yang berasal dari manusia. Mereka dikenal dengan sikapnya yang keras terhadap pemerintahan Islam. Dari literature yang ada mereka adalah sekelompok orang yang keluar dari pemerintahan Ali bin Abi Thalib dan menolak tahkim yang dilakukan antara pihak Ali bin Abi Thalib dan Muawiyyah. Intinya mereka adalah kelompok yang menjegal pemerintah Islam yang tidak melaksanakan hukum-hukum Allah ta’ala.
Adapun Murji’ah adalah pemahaman bahwa amal perbuatan itu tidak mempengaruhi keimanan seseorang. Sehingga menurut mereka, jika ada seseorang yang melakukan amalan kekufuran maka tidak mempengaruhi keimanannya. Contohnya ketika seorang pejabat pemerintah melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan hukum Islam, maka perbuatannya tersebut tidak mempengaruhi keimanannya.
Kok jadi serius gini sih…. Halah teoritis amat sih… ana cuma mau ngomong kalau sekarang ini banyak orang yang ngompor-ngomporin masalah kaya ginian. Paham Khawarij and Murji’ah itu terjadi pada masa lalu. Kalau sekarang ada ya itu cuman sisa-sisanya aja. Trus sama orang-orang yang nggak seneng sama Islam dibesar-besarin, jadinya umat Islam pada musuhan and gak akur.
Bayangin aja, satu kelompok nuduh kelompok lain khawarij karena sering mengkritik pemerintah dan tidak suka dengan pemerintah, sementara yang dituduh Khawarij balik nuduh mereka itu murji’ah karena tidak mengkafirkan orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan kekufuran. Nah lo…. Ente mau pilih mana? Bingung khan?
Ngak usah bingung-binguung take it easy, santai aja. Duduk di sofa tahan napas dan….. is death dong. Ya enggak lah…. Maksudnya kalo ngadepin masalah kayak gini kudu dengan kepala dingin jangan karena hawa napsu and pengin ngebanggain kelompokny aja. Tapi akhi ini khan dalilnya sudah jelas…. Siapa saja yang tidak taat kepada pemerintah berarti dia…… khawarij. Betul…. Tapi pemerintah yang mana dulu….? Kalo pemerintah Islam yang menjalankan Islam mungkin oke, tapi kalo pemerintahnya juga berhukum dengan hukum Allah gimana dong? Nah… lo kok kayak ngebelain gini. Enggak sih… buat penyeimbang saja kalau memang pemerintah salah yah.. ngomong aja salah cuman caranya itu yang kudu lebih beradab. Terus… gak juga manas-manasin generasi muda biar ga suka sama pemerintah. Selama mereka masih mengaku Islam ya…. kita ikutlah dalam hal yang ma’ruf.
Ikut dengan yang ma;ruf maksudnya gimana? Apa membiarkan mereka begitu saja, padahal mereka sudah tidak mau menerapkan hukum Islam dan mereka sadar lagi… mereka itu secara terang-terangan menolak hukum Islam. Kalau mereka bilang hukum Islam itu tidak cocok di suatu Negara, apa itu bukan melecehkan hukum Allah…
Waduh, jadi panas begini yah…. Ini dia nih yang ana juga lagi di tengah-tengah. Mau mihak ke mana ya….? mending nggak ke mana-mana deh. Lebih proporsional dan netral, tentunya dengan Islam dong.
Jadi solusinya gimana dong? Laksanakan aja Islam sekuat tenaga kita, maksimalkan potensi untuk Islam dan kaum muslimin. Jangan mengedepankan hawa nafsu untuk membela kelompok kita saja. Tidak usah lah ada kata-kata…. “Fulan Bukan Ikhwan Kita”  beda manhaj…. Na’udzubillah min dzalika. Yang lebih penting lagi nih….. jangan ngikutin ucapan orang lain tanpa kita tau dasarnya apalagi membela pendapat orang secara membabi-buta, bisa bahaya. Kita akan gelap mata dan dengan mudah menyatakan pendapat yang bertentangan dengan pendapat yang kita ikuti itu dianggap sesat….. ente khawarijj….. ente murji’ah. Nggak ada abisnya khan? Padahal masih banyak ilmu lain yang harus kita pelajari. Jangan sampai kita sibuk dengan tuduhan-tuduhan seperti itu, bisa jadi tuduhan itu hanya pitnah….
“Kayaknya ente udah kemakan subhat deh…” Iya kali ya? Afwan… ini bukan subhat sobat… ini adalah sikap bersahabat, selama mereka masih muslim kenapa kita dengan mudah mencela mereka…. Iya nggak?  

Tafadhol Read More......

Rabu, 18 Mei 2011

Hidup Di Tengah Fitnah Jama’ah


Oleh : Abu Aisyah


Hidup di tengah fitnah, inilah yang tengah terjadi saat ini. Hal ini menimpa pada orang-orang yang berusaha untuk tetap istiqamah dalam membela Islam yang shahihah. Bagaimana tidak? Ketika banyak orang lain bangga dengan kelompoknya dan membanggakan serta mendakwahkan nama kelompoknya saja, kita berada antara kelompok-kelompok tersebut. Tentu saja bukan menyalahkan kelompok-kelompok tersebut, namun sebaliknya orang-orang yang tidak ikut suatu kelompok sering sekali dituding dengan berbagai hujatan. Jika ia masuk ke kelompok A maka ia dianggap ikut kelompok B, sementara jika ia berada di kelompok B dianggap membela kelompok A.
Berbangga-bangga dengan kelompok –entah apa namanya- sejatinya adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Apalagi hingga meyakini bahwa kebenaran adalah yang berasal dari kelompoknya, sementara kelompok lain adalah salah. Lebih ekstrim lagi ketika menganggap bahwa orang-orang yang tidak mau menjadi bagian dari kelompoknya dianggap sesat dan kafir, naudzubillah.
Fenomena umat yang Islam yang bangga dengan kelompoknya adalah sebuah realita, betapapun suatu jama’ah mengaku membenci perpecahan dan menginginkan sebuah persatuan umat namun sesungguhnya ia telah terjebak ke dalam kelompok tersebut. Ia mengingkari adanya madzhab namun ia sendiri membuat sebauh madzhab. Madzhab tanpa madzhab, itulah fenomena yang terjadi saat ini ditambah lagi para pengikut madzhab sebenarnya yang sangat taklid dengan apa kata gurunya. Semua itu menambah ashabiyah (bangga dengan kelompok) semakin membelit umat Islam.
Jika kita melihat fenomena masyarakat yang bangga dengan kelompoknya masing-masing dan cenderung dengan mudah menyalahkannya. Apa kira-kira jalan keluar dari semua ini? Tetaplah istiqamah dengan Islam dan Sunnah, itulah keputusan terbaik yang harus kita lakukan. Jika mampu maka hindarilah kelompok-kelompok atau jama’ah yang akan memecah belah umat Islam, namun jika ingin masuk ke dalam kelompok terebut silahkan saja hanya saja syaratnya adalah jangan sampai dengan mudah menyalahkan orang lain atau kelompok lain. Apalagi hanya masalah-masalah fiqh yang sifatnya furu’iyyah, misalnya masalah qunut, tarawih, jumat dan masalah fiqh lainnya. Semoga kita tetap istiqamah di atas Islam dan Sunnah bukan di atas jama’ah yang tida lepas dari salah. Wallahu a’lam. 

Tafadhol Read More......