Kamis, 26 Mei 2011

…….silahkan, terima syukur menolak kufur?


Oleh : Bambang Prawiro

Dunia Islam tengah mengalami sekarat, apa sebab? Fenomena bermunculannya berbagai sekte dalam Islam mengakibatkan umat Islam yang awam dengan agamanya mudah termakan isu. Sehingga secara mentah-mentah menukil sebuah ucapan orang lain, apalagi jika itu berasal dari gurunya.
Di antara fenomena yang kerap terjadi adalah bentuk pengkafiran kepada orang lain atau kelompok lain. Ucapan “…….silahkan, terima syukur menolak kufur?” walaupun tidak diniatkan untuk mengkafirkan orang lain namun secara tidak langsung memunculkan fenomena pengkafiran kepada kelompok lain. Atau bias jadi memang ucapan ini mengandung makna bahwa yang mengikuti ucapannya berarti mengikuti pendapatnya (dengan ucapannya syukur), sementara yang menolak pendapatnya berarti kufur (keluar dari Islam alias murtad). Wuih……. Parah amat!
Pengkafiran adalah suatu paham yang menganggap bahwa orang lain itu salah sehingga terjatuh kepada kekufuran. Berbanding lurus dengan keyakinannya bahwa dia atau kelompoknya yang paling benar. Apakah tidak boleh menganggap diri benar? Tentu saja boleh ketika ia didasari pada ilmu yang benar. Bukan asal mendengar, apalagi hanya menukil (copy-paste) dari tulisan orang lain.
Masalah mengkafirkan pihak lain adalah sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam, sehingga tidak boleh mengatakan “ente kafir” kepada saudara kita yang masih muslim. Bisa jadi ia akan berbalik kepada sang penuduh kafir tersebut.
Kekafiran seseorang harus didasarkan kepada fakta dan data. Ditegakkannya hujjah atasnya dan dia sadar dengan keyakinannya tersebut. Jika hanya tidak mau mengikuti pendapat seseorang, apalagi dalam masalah fiqh maka kalimat “kafir” adalah sebuah kesalahan total.
Mudah-mudahan kita terhindar dari sikap mudah mengkafirkan orang lain. Selama seseorang muslim dan tidak ada sebab yang menyebabkan dia keluar dari Islam maka ia tetap muslim walaupun ia pelaku dosa besar. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar